Archive for the ‘surat-surat yang tak terkirimkan’ Category

IMG_0232

Lapor jendral, tadi malam setelah membantu si bule memakai sarung di mesjid besar sebelah gereja itu, saya langsung ke tugu emas tersebut untuk menginspeksi lokasi di mana kepala bung Biru nantinya akan diceraikan dari badannya yang semata wayang itu. Menurut hemat saya, sangat tidak pantas tempat itu dijadikan tempat eksekusi . Sangat tidak pantas kita mengotori tugu kebanggaan pertiwi ini. Darah lintah para pengerat rakyat ini tidak perlu diberikan tempat di sini. Nanti kilau tugu yang menjulang ini akan rusak, kusam dan butek seperti air sungai kota ini. Baiknya diumpani saja kepala bung Biru itu ke laut jauh, biar kenyang penguasa laut memamah daging busuknya.

Bagaimana jendral? Atau lebih baik ditungkukan saja leher dan badannya itu, biar hilang dari peradaban? Itu hanya saran saya lho jendral, mumpung saya masih di kota ini.

download

Ibukota, 24Februari2013

Iklan

saat kau membaca surat ini, kawan. ketahuilah, aku mungkin sedang memandangi langit mendung di senja hari, menerka-nerka hujan yang kerap berteka-teki. atau mungkin aku sedang membersihkan sisasisa dunia di wajah, dengan toner all in one yang kubeli siang tadi di sebuah mall dari seorang SPG berjilbab ungu dengan dandanan smoky eyes, bercontact lens violet dan di banner tokonya tertulis : (lebih…)

Duhai samudraku yang terkasih,

Ibu pesankan padamu, jika nanti kau menjadi seseorang yang mempunyai kekuasaan, maka luaskanlah hatimu melebihi jagat raya. Rendahkan hatimu sedalam palung di lautan. Merunduklah seperti padi.

Nak kekuasaan yang kau miliki baik itu harta maupun kedudukan, semua itu tak ada yang abadi. Titipan nak, titipan. (lebih…)

Aku menulis ini saat garang matahari menghardikku dari balik jendela kantor. Kapal-kapal telah menambatkan sauhnya di dermaga dan para pekerja mulai sibuk mengemasi keringat yang bercampur dengan debu-debu las. (lebih…)

yang terkasih : Muhammad Zulvy Nurzal

Dek, Tuhan baik telah menurunkanmu pada keluarga ini. Dek, kau adalah pelajaran yang tersulit sekaligus berharga untuk keluarga ini. Kami belajar untuk memahami perbedaan dan menerimanya dengan lapang. Dek, kami sangat mengerti rahasia Tuhan yang dititipkan padamu. Dalam dirimu begitu banyak isyarat yang harus kami terjemahkan. Tapi kadang ketidaksabaran selalu mengitari kemengertian kami. (lebih…)

menjelang isya, sebuah telpon dari seberang.

hallo, apa kabar? maaf, masih sisa dari pulsa yang kau berikan padaku, teman baik?” jawabku

mmm….begini. tak sedikitpun kuharapkan kabar darimu, karena sama saja kau dengan mengasami luka yang sudah cukup kering di makan waktu. sebab akan kuingat seringai kemenanganmu atas kehancuran ini. bagaimana kau coba menjadi karib yang ternyata menyimpan belati di punggungmu. sementara aku begitu naif, menganggapmu teduh.
(lebih…)

purnamaBukankah pernah kulihat bulan di pangkuanmu? Bulan yang ingin sekali kupinjam. Bukankah pernah pula Kita berbagi angin bersama.  Merasakan badai dan sepoi-sepoinya. Tapi waktu itu mungkin aku yang tak bersungguh-sungguh, sobat. Aku tak benar-benar berbagi, karena aku telah terlena dengan hembusan cinta yang ditawarkan senja sehingga aku lupa bahwa kita pernah mentertawakan orang-orang yang memberhalakan “kekerdilan” itu. (lebih…)