SURAT KECIL SEPULUH OKTOBER

Posted: Oktober 10, 2012 in lautku
Tag:, , , ,

: kepada Mak

Begini Mak, akulah perempuan yang pernah menumpang di rahimmu, sembilan purnama. Kemudian menggelayuti dadamu dua almanak penuh lamanya. Belum lagi separuh cemas yang kau titipkan pada siang dan malam atas namaku. Si sulung pelipur lara, pusat rotasi duniamu. Matahari yang menghangati musim dinginmu.

Mak, Kadang kurampas senyummu dengan kerut kening yang menyimpan tanda tanya, seolah-olah kaulah juru terka yang sepatutnya memahamiku, siaga untukku. Kadang kuhardik diammu yang damai dengan rengekan manja. Rengekan atas kerunsingan kecil yang menghambat langkahku.  Namun tetap akulah benteng tangguh di hatimu, si gagah yang tak pernah goyah. Kekayaan paling hakiki di duniamu yang kecil.

Sering aku tak hirau dengan kesakitan dan ringisan perihmu yang mengukur-ukur keringat ayah dengan mimpiku, cita-citaku. Aku egois mak, mengganggapmu karang yang selalu tegar pada apapun. Padahal aku pernah melihat masa yang paling rapuh dalam hidupmu. Masa  di mana ayah menerjang jalanan buat suap kita. Masa dimana hujan terlalu ramah pada gubuk kita yang reot. Aku  melihatnya semua. Masa di mana pelukmu dan dendangan ayah adalah kemewahan malam yang tak kudapatkan dari ranjang emas sekalipun. Dan sampai kapanpun akan tetap demikian. Terima kasih atas cinta kalian

Aku mengganggapmu serba bisa, yang kadang tak sedikitpun memerlukan bantuanku. Padahal aku sering melihatmu terseok menggantang gelisah, mengurusi lima orang yang keras kepala dan menyebalkan di rumah ini. Kepala-kepala batu yang membentengi opininya sendiri, namun kau selalu mampu jadi gerbang dan jembatan yang menghubungkan gugusan cadas hati kami. Sedikitpun engkau tak jemu meski jangkauan tanganmu terlalu kecil untuk merangkul kami sekaligus.

Kadang teriakanmu seperti lolongan kosong yang kerap aku acuhkan. Jahat aku mak. Kutuklah aku serupa malin, membatu di telan zaman jika kelak kuabai pada nasehatmu. Pada air mata dan rapal doa-doamu.

Mak, syurga yang bermahligai di bawah telapakmu adalah tujuan. Tempat pulang yang paling damai. Namun tetap saja mak, anak gadismu sedang belajar mengeja musimnya, kadang tergagap oleh angin, kadang terbuai oleh gelombang serupa sampan dititian laut. Sungguh mak, maafkan aku. Sujud aku atas hidup dan kehidupanku. Ampun aku atas khilaf dan kenaifanku. Sungguh tiada damai selain keikhlasanmu.

Berbahagialah, Mak.

Atas nama ayah, aku dan adik-adikku,

Selamat Ulang Tahun.

                            Semoga Keberkahan Allah Melimpahimu.

Batam, 10102012

 

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s