Arsip untuk September, 2012

SEPTEMBER DI RUANG TUNGGU

Posted: September 29, 2012 in lautku

Medio September, di sebuah ruang tunggu klinik, aku ditemani adikku tengah menunggu giliran bersama dua pasangan suami istri dan anak-anak mereka yang super hiruk.

Pasangan pertama adalah seorang laki-laki tengah baya bermata sipit dan bergigi ompong penuh cerutu.
Dari logat bicaranya aku tahu dia bukan warga negeri ini.
Barangkali pelancong seberang pulau yang gemar menghabiskan akhir pekannya di kota ini.
Sedangkan perempuannya adalah seorang wanita yang kuperkirakan umurnya setengah dari umur laki-laki itu.
Dari logat bicaranya aku yakin dia berasal dari sebelah utara pulau andalas.
Sekilas pakaian yang ia kenakan kupikir tidak pantas lagi untuknya.
Sungguh baju itu tidak mampu menyembunyikan kerut kulitnya yang mulai bergelambir.
Aku sempat terkekeh dalam hati, namun cepat kutepis.
Mereka membawa dua orang anak laki-laki yang sebenarnya lebih pantas menjadi cucu daripada menjadi anak dari laki-laki itu.

Jikalah di kota ini ada kandang burung murai mungkin kicaunya akan kalah dari teriakan-teriakan manusia-manusia kecil ini.
Benar-benar hiruk serupa kandang siamang di kebun binatang Bukittinggi.
Hahaha…..otakku tidak dapat menahan laju imajinasinya.
Kubayangkan anak-anak tersebut bergelantungan di jendela ruang tunggu dan berteriak-teriak.
datang beberapa aparat keamanan menciduk kedua anak kecil itu.
Kemudian kedua orang tua ini merengek-rengek agar anak-anak tersebut jangan dibawa.
Para petugas marah dan menanyakan bukti kalau mereka adalah pasangan suami istri dan kedua anak tersebut adalah darah daging mereka.
Mereka bingung karena surat-surat yang diminta hanyut bersama lampu-lampu diskotik tempat awal mereka bertemu.
Surat-surat yang diminta tersebut hangus terbakar nafsu mereka yang larung di ranjang hotel kelas melati di salah satu sudut kota ini.
Awalnya aparat tersebut ingin menciduk satu keluarga itu.
Namun berkat kertas-kertas bernomer ajaib di saku si laki-laki ompong tersebut, para aparat itu langsung melenggang tenang dan malah memberikan jabat tangan terhangat, tak lupa juga menyelipkan selembar kertas rekomendasi agar nanti anak-anak pasangan tua itu dapat bersekolah kelak di negeri ini.
Lagi-lagi aku terkekeh dan kali ini bukan dalam hati.
Wah…syaraf-syaraf di otakku berdenyut kejang. adikku yang duduk disamping menyikut perutku pelan “apanya yang lucu?”tanyanya heran.
“ga” jawabku singkat.
ia kembali menekuni majalah di pangkuannya.

Pasangan yang kedua adalah suami istri yang usianya mungkin lebih muda dariku.
Mereka juga membawa anak laki-laki yang lumayan manis dan gemar menyapa orang-orang di sekitarnya.
hmm…benar-benar anak yang ramah.
Dari awal kedatanganku ke klinik ini sudah kelima kali ia menyapa dan tersenyum padaku.
Sapaan pertama dan kedua sih kuladeni, tapi selanjutnya kuacuhkan saja.
Kepalaku sudah cukup sakit melihatnya yang mundar-mandir di depanku, terlebih lagi ditambah dengan teriak-teriak dari anak pasangan tua tadi, maka suksesnya seluruh syaraf otakku dialiri listrik bertengangan tinggi.
Mungkin ibunya tahu aku terganggu dengan tingkah anaknya.
Perempuan muda itu mencoba beberapa kali menenangkn anaknya agar mau duduk manis.
Tapi karena godaan dari anak-anak pasangan tua tadi.
Anak pasangan muda akhirnya ikut juga dalam karnaval anak-anak rese bermuncung murai itu.
Akkkhhhh!!!

Terbuat dari apa bocah-bocah kecil ini, seharusnya mereka tahu ini ruang tunggu.
Dan ruang tunggu itu seharusnya tenang dan nyaman, karena pekerjaan menunggu itu adalah pekerjaan yang paling membosankan yang pernah ada di muka bumi ini.
seharusnya orang-orang tua ini juga mengerti bahwa membawa anak ke ruang tunggu adalah pekerjaan terbodoh yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Apa mereka tidak tersiksa menunggu sambil mendengar teriak-teriak tolol mulut anak-anak tidak berdosa ini.

Hampir dua jam berlalu namun tanda-tanda namaku akan dipanggil belum juga ada.
Hampir saja kuputuskan untuk hengkang dari klinik ini karena jemu.
Anak-anak itu masih berteriak-teriak, tertawa dan bertengkar sesamanya.
Kemudian terhening saat sama-sama melihat keluar jendela.
Maka berlarianlah salah seorang anak dari pasangan tua tadi ke orang tunya.
“pa, itu apa?”tanyanya lugu.
Si papa melongok sebentar keluar jendela.
“oo…itu anjing lah. Masa kamu tidak tau”dengan logat oriental seberangnya yang medhok.
“anjing…anjing..anjing……”berteriaklah si anak sambil menghadap ke jendela disusul oleh kakaknya yang dari tadi memperhatikan penjelasan bapaknya.
Anak pasangan muda tadi tak mau kalah berlarian pulalah ia ke tempat ibunya “bu, itu anjing yach?”tanyanya.
Dengan sigap si ibu membekap mulut anaknya “sstt…itu guk-guk sayang”.
Anaknya sedikit terpana namun kemudian segera berlarian menyusul kedua anak pasangan tua tadi sambil berteriak “guk…guk…guk…guk…”

“bukan, itu anjing”protes si anak dari pasangan tua
“itu guk..guk…”bantah si anak pasangan muda
Kedua pasangan tadi saling melirik curiga satu sama lain.
Suara anak-anak tersebut malah semakin kencang, seperti desing pesawat ketika hendak tinggal landas.
“anjing..guk.guk..anjing…anjing…guk..guk…”
Suara itu menikam gendang telinga kemudian menghantam-hantam otak.
“kamu dipanggil tuh”sikut adikku sekali lagi smabil menunjuk ke pintu ruang praktek dokter. Aku terkesiap, lalu melangkah masuk ke ruang tersebut.
Teriakan anak-anak tadi masih mendengung memenuhi suasana, tak kuhiraukan jarum suntik, bau alkohol atau koleksi replika gigi yang berjejer di dalam rak si dokter.
Kepalaku lebih tertarik pada teriakan anak-anak tadi. “anjing…guk..guk….anjing….anjing…..guk…guk….” teriakan-teriakan itu seperti berima di otakku, tak terasa sudah dua jarum mendarat di kulitku.
Wadooww….aaaaaaaa……teriakkan itu tersangkut di kerongkonganku…..

Batam, medio September 2012