dialog tengah malam tentang angka jahanam

Posted: Februari 7, 2012 in lautku

pukul 23.25, layar komputer masih nyalang. waktu yang pas buat bermimpi, namun tak jua padam kelopak mata. bercakap-cakap dengan sahabat di lain tempat, ah..walau jetlag tetap ingin berbagi.

“apa kabar dear, bagaimana hidupmu?” sapa basa basi di awal kalimat.

“so far so good” apa lagi yang hendak kukabarkan untuk sebuah kebosanan yang menghinggapi batang tubuh dan sanubari ini. jiwa yang terperangkap pada rutinitas. menghitung bilangan jam dari pagi ke petang. berusaha bangun lebih dulu dari kokok ayam tetapi selalu kalah untuk duluan pulang kandang.

“pekerja keras” puji suara dari lain benua. ah, andainya kau tau kawan. ini bukan loyalitas tapi ketertundukan pada sistem sosial yang menuntut. tolak ukur kedewasaan yang menginginkan kemapanan sebagai level untuk meraih martabat. mapan sandang, pangan, papan. hahaha, aku hampir gila!

lakukan demi kehormatan, demikian salah sorang teman lain menyebutnya dulu. ah, entah kehormatan apa yang dapat diraih dari timbunan angka2 yang mengendap dalam kartu-kartu tipis ajaib itu.

angka-angka yang terwujud dari apapun. kau pernah melihat ladang-ladang minyak menggenanginya? namun butuh telaga darah saudara-saudara kita untuk memanennya? tanah yang kemudian mengusir keponakan, paman, ibu dan tetanggamu dari kampung. yang memaksa para paman dan bapak memanggul bedil dan mesiu.

angka-angka ini juga pernah berwujud, laut yang menelan bapak dalam pelayaran. beralmanak-almanak. mencumbui gelombang dan menundukkan ombak. kau yang tumbuh menjadi sunyi dan merutuki laut, bersandar pada matahari yang acap kali mengkhianati. kau yang kemudian di asuh zaman

angka-angka ini juga sering berwujud konspirasi, menutup mata air kaum papa. berakhir pada kursi-kursi empuk di gedung dewan, dan bendera-bendera kebusukan yang mengatasnamakan rakyat. kau tau yang terjadi? orang-orang bawah harus mencekik lehernya sendiri buat mengakhiri ketergantungannya pada angka-angka ajaib ini.

angka-angka dalam komputer lalu lalang, hingar bingar berpindah-pindah dari perut satu ke lambung yang lain, dari otak satu ke jantung yang lain, tikam menikam tindih menindih. bunuh membunuh.

lalu siapa yang bertanggung jawab? aku? engkau? nasib? bapak kita? anggota dewan? konspirator? atau para jagal politikus busuk yang menduduki jabatan di negaraku, negaramu? zionis? atau mungkin Tuhan?? (ah, aku belum terlalu durhaka untuk mengutuk Tuhan, kawan. Aku masih membutuhkanNya. Segala Puji bagi Allah Tuhan sekalian alam)

“kau butuh penyegaran, dear” susunan kalimat dari ruang obrolan berjejer jadi simpati. aku tak habis pikir bagaimana aku akan dapat penyegaran? angka-angka ajaib itu lebih dulu memblokade langkahku. tunduk, menyerah lalu kalah. ahhhh!!!

Batam, menjelang naga air

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s