Yang Mengintai Tirai Jendela

Posted: September 17, 2011 in ode magenta

Aku di jalan saja, mengintai tirai jendelamu yang disingkap angin. Semoga dapat kupandangi kau yang sedang menyisir rindu di baliknya.

Pernah aku ingin menyapamu, namun kulihat ada puntung rokok di sebelah meja kerjamu, tanda ada peziarah lain tengah menetap di sana. Aku urung mengetuk ”itu puntung rokok musim kemarin yang belum sempat kubereskan. Aku terlalu sibuk belakangan ini” angin menghantarkan gigilmu padaku. Namun akupun larut dalam keliaran petualanganku dan kau tetap sembunyi di balik cadarmu.

Aku di jalan saja, mengintai tirai jendelamu yang disingkap angin. Meski kudapati kau sedang menyenandungkan syair syair gulana. Aku tak cukup mampu untuk singgah, dan menerima selimut bermotif bunga mataharimu tersebab sepotong sapu tangan dengan motif mawar tengah menggengam jemariku. Mengayuti malamku, dan kau sudah cukup paham dengan itu. Aku petualang liar yang gemar bermain api dan menaklukkan kobarannya. Singgah hanya akan membuat patah.

Aku di jalan saja, mengintai tirai jendelamu yang disingkap angin. Jangan dulu kau tutup daun jendela itu karena aku ingin menjengukmu sewaktu-waktu. Dan jangan lupa ”titip salam buat senyum dan matamu”

Batam, September 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s