Dinding Tentang Teman Lama

Posted: November 16, 2010 in lautku

Begini, seorang teman lama sering benar berkomentar di dindingnya, tentang kekecewaan pada tumpah darahnya ini, tentang kekuasaan orang-orang yang serakah, tentang ketidakadilan, keingkaran dan mungkin pencarian. Ah, kadang sedikit bosan membacanya, kadang tersentuh, kadang kesal luar biasa. Begitulah, temanku ini memang tidak berubah. Tetap kritis dan mengkritisi. Semangat intelektualnya berkobar-kobar, membaca tulisannya aku jadi ingat kolom-kolom koran dan majalah yang patut dibredel oleh pemerintahan orde baru dulu. Ia dapat dengan mudah mengutip kata-kata dari orang –orang yang kadang menyebut namanya saja aku sudah kesulitan, apatah lagi membaca buku-buku tokoh-tokoh tersebut. Ia juga teman yang selalu bisa membuat aku iri, hingga kini entah buku ke berapa yang telah diterbitkannya, sedangkan aku? Hanya mampu bermimpi kalau suatu hari aku dapat menerbitkan karya-karyaku ini (hahaha…..siapa suruh hanya menyimpannya di folder computer doank).

Kami benar-benar berbeda. Aku menyebutnya manusia ilmiah sedangkan aku adalah manusia fiksi. Gemar bermain dengan kata-kata. Berusaha mencari filosofi dari semua hal. Lebih tertarik pada hal-hal sederhana namun mendalam. Sedikit puitis, romantis namun liar dalam imajinasi. Sedangkan dia, selalu tertarik dengan konsep-konsep dan teori-teori yang disampaikan oleh orang-orang besar. Pemikirannya tentang pergerakan, umpama aku sedang membaca kegelisahan Tan Malaka atau Soe Hok Djie saja. Dan yang paling pasti ia seorang intelektual muslim yang patut diperhitungkan dan bisa kuprediksi suatu hari Ia akan menjadi seorang yang berpengaruh, jika ia benar-benar bisa mempertahankan ideologynya. Tidak pantang menyerah dan selalu mempertahankan keyakinannya.

Aku salut pada temanku yang satu ini. Walau kadang dulu di masa masih sama-sama berkubang di ladang yang sama, kami tidak pernah benar-benar sepaham walau kadang tujuan akhir kami sama. Kami punya cara sendiri-sendiri untuk berfikir dan bertindak terhadap sesuatu. Kadang ia menganggap aku skeptic sekaligus artistic sementara aku melihatnya seorang yang pragmatis dan oportunis. Bah! Sekarang ketika aku telah kembali ke dunia nyata dan ia masih di dunia konsep-konsep, justru yang terjadi malah sebaliknya. Aku seperti seorang oportunis yang telah duduk di singgasananya yang nyaman dan lupa untuk menyikapi sekelilingku. “kadang ada orang yang sadar tapi tidak menyadari. Mungkin karena mapan….”demikian kira-kira kata-katanya ketika mengomentari tulisanku di dindingnya. Jujur saja, saat itu aku benar-benar tersinggung. Aku tak sepicik itu. Mungkin memang caraku yang tak sama dengannya dalam mengarifi masalah. Tapi ya sudahlah…aku pun tak mau mencari pembenaran atas sikapku. Dan kubalas saja dengan penutup “ternyata kita masih tetap sama, sobat. Sama-sama sulit untuk sepaham. Dan aku menyukai itu, karena perbedaan itu indah”. Yang pasti aku tak pernah benci padanya. Ia tetap teman yang baik karena mempunyai cara memandang yang tak sama denganku, sehingga aku dapat belajar untuk tidak hanya melihat sesuatu dari kacamataku saja.

Ah, aku jadi berfikiran, kami seperti dua kutup magnet yang sama. Namun sulit untuk disatukan. Hahahaha…

Batam, November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s