Surat Selamat untuk bulan dipangkuan

Posted: Juli 23, 2010 in surat-surat yang tak terkirimkan

purnamaBukankah pernah kulihat bulan di pangkuanmu? Bulan yang ingin sekali kupinjam. Bukankah pernah pula Kita berbagi angin bersama.  Merasakan badai dan sepoi-sepoinya. Tapi waktu itu mungkin aku yang tak bersungguh-sungguh, sobat. Aku tak benar-benar berbagi, karena aku telah terlena dengan hembusan cinta yang ditawarkan senja sehingga aku lupa bahwa kita pernah mentertawakan orang-orang yang memberhalakan “kekerdilan” itu. Merengganglah jabat tangan kita, kita pilih jalan lain tanpa suara  yang kerap berdebat, hening di langkah masing-masing.

Dan suatu kali aku patah, hingga harus tertatih melanjutkan kisah. Namun kau memberikan lentera, walau tak seterang bulan tapi cahayanya cukup untuk menerangi. . “satu istana akan disiapkan Tuhan di Syurga, jika aku bisa menyatukan kalian”, hiburmu dengan semangat. Ah, Meski akhirnya lentera itupun padam, setidaknya aku tahu kau sudah berusaha merakit sampan itu untukku. Usai itu semua biarlah aku belajar mengemas perih, dan menyusunnya jadi lipatan cerita di hari tua.

 Sobat, dimusim yang tak lagi ramah, kita berlayar di  laut masing-masing. Dengan kayuh yang tak lagi sama, tapi tetap kita saling berkabar pada angin. Hingga jarak bukanlah jurang bagi kita, sebab kita punya jembatan kuat untuk saling menyeberangi. Setidaknya itu masih kuusahakan walau kadang tepukku tak berbalas (ah, mungkin hanya perasaanku saja). Hahaha

Kini pelayaranmu pun dimulai dengan sepasang bahu tangguh di sampingmu. Bukan nama baru, masih wajah yang lama. Teman seperjuangan, tempat kita biasa berbagi kayuh. Ia yang malam-malam datang  sebelum hari keberangkatanku pulang ke kota ini. “doakan ikatan kami, sobat” pintanya padaku. Walau sedikit terkejut, namun kelegaan menyusuri relungku, karena sobatku berada ditangan yang benar. Ia imam yang sempurna untukmu, sahabat dan kekasih yang akan menghantarkan keluargamu kelak ke syurga. Kalian sepadan, karena aku sudah melihat ketulusan itu jauh-jauh hari sebelumnya. Dan diam-diam senyum dan setitik airmata teruntai dalam doaku, sebagai tanda cintaku pada kalian.

Lalu berbulan-bulan kemudian, purnama itu lahir dari rahimmu. Jundullah. Penyambung darah kau dan dia. Amanah yang telah diberikan Tuhan pada hamba-hambanya yang pantas. Si mungil yang kelak menjadi pemimpin umat, insyaallah.

Jika boleh kutumpang bahagia atasmu. Atas nama persahabatan kita, Hari ini dan selamanya….

Dedicated to : Iwied & Adel

Nb : mudah-mudahan di Syurga kelak kita bertetangga, hehe

Iklan
Komentar
  1. daniel de verve berkata:

    mantap no lai iii….i like it…

  2. ummi fatan berkata:

    terimaksih sobat begitu dalam matahatimu untuk persaudaraan ini, mungkin inilah sebab sering kali mengundang rindu kami padamu. tak jarang namamu menari-nari menghias langit kami ketika coba mengenang masa lalu bersamamu.

    sahabat..
    sahabat kadang kami merasa dirimu akan datang di depan rumah kami dengan baju dan tas selempang bahu. dan mainan gantungan “kunci hantu” di tas mu.

    sahabat
    kami sadar bahwa kerinduan kami adalah “nitmat tuha” krena itu kami yakin persaudraan ini akan di lindunginya. untuk itu kami sangat merasa dekat denganmu

    peluk cium dari ponakanmu M. Fatan El Wahidi

    sahabatmu
    abu wa ummu fatan

    • kembali kasih pada kalian berdua,
      makin banyak kusadari kekuasaan tuhan setiap aku mengingat kalian, sahabat.
      kalian tak sekedar teman tertawa, menangis dan berdebat.
      dari kalian aku belajar bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu bukan hanya ketika kita memperoleh nikmat dan kesenangan. namun ketika kita dapat melihat orang-orang yang kita cintai berbahagia adalah juga kebahagiaan yang sebenarnya.
      sabahat,
      “kita sepakat pada apa-apa yang dapat kita sepakati tapi tidak akan sepakat pada apa-apa yang tidak bisa sepakati” masih ingatkan, wid?

      hahaha….suatu hari aku akan muncul mengetuk pintu rumah kalian, tapi maaf mungkin tak lagi dengan tas selempangan dan “gantungan kunci hantu”(hehe…aku tak abis pikir kenapa kalian menyebutnya demikian), dan doakan ketika kesempatan itu tiba telah ada sesosok pilihan tuhan menggenggam tanganku erat.

      salam kembali untuk si kecil Fatan,

      ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s