surat untuk ain

Posted: Juli 19, 2010 in surat-surat yang tak terkirimkan

ain, bertambuh-tambuh rengek kusuapkan ke telingamu, namun matahari tak jua tenggelam dari matamu. ain, siang itu aku tak dapat lagi membendung hujan, kemarau sudah mencekik hatiku. ain, kau tau teduh yang selama ini menaungiku, memupuk bunga-bunga di taman kehidupanku tiba-tiba menguap bersama senja, tak pula ia menyisakan bintang-bintang buat malamku. ain, kosong musimku jadinya. tak ada apa-apa di sana, bahkan bayanganku sendiripun tidak.

ain, jembatan kokoh tempatku menyeberang, patah. remuk dihantam badai. aku ngungun terombang-ambing, hanya mampu bertahan di akar lapuk yang akhirnya runtuh jua. ain, kali ini pinjami aku pelita, kalau tak ada, lilin pun tak apa. biar tapakku mampu menjejak bumi, selangkah demi selangkah. lalu biarkan aku berlari tanpa bimbingan tanganmu. aku ingin angin yang menunjukkan tujuanku. tak usah pula kau teriaki “hati-hati di jalan”, karena aku akan lebih hati-hati.

ain, jangan pernah bosan jadi telaga, menampung curah gerimis dari hatiku dan menampinya menjadi butiran doa.

Iklan
Komentar
  1. degraphics berkata:

    I like this one, it touches us enough, hmmm glad to read your post again, gud luck sista… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s