Surat Dari Yang Setelah

Posted: Juni 21, 2010 in surat-surat yang tak terkirimkan

(Hujan siang bolong, Tukang Pos berbasah-basah menyerahkannya padaku. Makan siang baru seteguk Chocolateshake hangat dan segigit Tempura)

Salam Sejahtera,

Apa kabar dirimu? Kau mungkin terkejut dengan kedatangan surat ini, karena tak akan kau temui namaku dalam list orang-orang yang kau kenal. Namun aku sangat mengenalmu dengan baik. Itu berkat seseorang yang pernah sama-sama kita cintai. “Laki-laki di lembayung senja”. Tentu bukan nama yang asing bagimu, bukan? Ya, akulah perempuan setelahmu itu.

Aku harap jangan kau tanyakan maksud isi suratku ini.

Aku cemburu. Dua tahun yang kami jalani bukan apa-apa. Bunga-bunga di suaranya hanya tentangmu, puisi-puisimu, lagu-lagumu sampai makanan favoritmu. Aku muak, mengapa harus ada namamu dalam kisah kami. Hari-hari kami hanya bohong, aku hanya bercinta dengan jasad sementara jiwanya berselimut kenanganmu. Ia memang memilih aku, namun ia juga tak mau melepasmu. Sebab hanya kamu yang mampu memberikan warna lain pada hidupnya. Katanya, tak ada yang sepertimu, tegas, cerdas namun juga indah. Keindahan puisi adalah kamu, kemerduan nada-nada adalah kamu dan Ia adalah syairnya. Aku sungguh iri padamu, karena kau bukan perempuan biasa, bukan rengekan ataupun make-up berlebihan. Kecantikan karakter, dan kecerdasan emosional. Modal menaklukannya. Namun nampaknya ia pun tak kuasa untuk menolak tuntutan di sekelilingnya. Ia rapuh, dan terlalu pengecut untuk memperjuangkan cintanya padamu. Menggunakan logika, namun membunuh nuraninya sendiri, untuk sebuah prestige kampungan yang sering diumbar orang-orang yang menganggap diri mereka berbudaya.

Walaupun selemah itu tapi jangan kau benci padanya. Ia hanya korban. Korban dari sistem hidup yang diciptakan masyarakat yang (katanya) bermartabat. Sehinggga ia mencari cara untuk menjauhkan rasa bersalahnya padamu. Membuang ingatannya tentangmu jauh-jauh. Tapi sebenarnya ia terjebak dalam labirin memorinya sendiri. Semakin ia berusaha membencimu, orang-orang akan tetap memberitakan manisnya madu dari kelopakmu padanya. Walau ia bersembunyi ke lubang semut sekalipun, harumnya kuntummu akan tercium sampai ke sana.

Lalu akupun berfikir, untuk apa aku harus melanjutkan hubunganku dengannya. Karena aku akan hanya jadi boneka penggantimu. Kisah ini kuakhiri saja, karena tak akan ada tempat untukku di hatinya walau aku sudah berusaha keras.  Sekarang, andai ia terlalu pengecut untuk memulainya, kuharap cintamu masih punya kekuatan untuk memperjuangkannya kembali. Jemputlah ia…..

Salam dariku,

Perempuan setelahmu

(di penghabisan suratnya akupun bertanya pada hati, bagaimana likunya siang ini?)

Iklan
Komentar
  1. degraphics berkata:

    Hey, posting lagi dunk yang banyak, gw pengen baca lagi tulisan2 lo, keren tau, ciao

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s