Surat Sunyi Kepada Teman Sepi

Posted: Juni 14, 2010 in surat-surat yang tak terkirimkan

(malam membaca kabarnya)

 

Teman, jangan lagi menanyakan rindu padaku. Rindu hanya lantunan lirih dari radio-radio usang. Terlalu tua untuk mewakili kegelisahan. Aku tak tahu (dan mungkin kau juga) apakah yang selalu kita dialogkan itu adalah rindu yang sebenarnya. Atau ia hanya sebuah interaksi social yang menandakan kita pernah mempunyai kenangan.

 

Sudahlah teman, jangan lagi menanyakan rindu padaku. Rindu hanya ada dalam lirik-lirik puisi dari penyair yang sedang mabuk. Dan aku (barangkali juga kau) mungkin sedang mabuk ketika mengucapkannnya. Mabuk karena arus waktu yang tak lagi mengizinkan kita untuk menuntaskannya bersama. Kemudian, kita mencari cara untuk tak merasa bersalah.

 

Maaf, bila kali ini kau akan ter”silet” (haha….haha…hahhah…..masih saja infotainment mengusik hidup kita). Tapi sebagai sosok yang pernah beriringan. Ada abu-abu yang sering kau sembunyikan di balik pungungmu hingga aku tak pernah bisa menjengkal bayang-bayangmu. Aku seperti seorang peziarah yang pura-pura mengerti jejak, padahal aku tersesat di dalamnya. Jadi, sekarang lupakan saja tentang kerinduan-kerinduan itu. Kita sudah tak punya apa-apa lagi untuk dibagi, di kali, ditambah ataupun dikurangi.

 

Rindu kita hanya hampa. Kosong yang tak akan tergenapi……..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s